Monday, August 1, 2011

Saat Tepat Garap T.I.M.E

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Saat Tepat Garap T.I.M.E

Telkom fokus menggarap bisnis telekomunikasi, informasi, media, dan edutainment. Mereka mengandalkan bisnis konten untuk mendominasi pasar.

Oleh: Deviana Chuo.
Fotografer: Gugun Angguni Suminarto

Jika diibaratkan pesawat, industri telekomunikasi telah mencapai ketinggian 30.000 kaki di atas permukaan laut. Padahal, batas ketinggian maksimal penerbangan komersial hanya 33.000 kaki. Sesudah itu, pesawat terbang mendatar hingga mendarat.
Itulah batas yang bisa dicapai jika PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) hanya bergerak di industri telekomunikasi. Namun, Telkom merombak batas itu dengan mentransformasi bisnisnya dari hanya telekomunikasi ke telekomunikasi, informasi, media dan edutainment (T.I.M.E). Mereka melakukan itu karena, kata Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah, “Perusahaan telekomunikasi yang tidak berubah, akhirnya berjualan komoditas. Mereka yang berhasil sekarang ini justru yang menggabungkan network atau connectivity dengan aplikasi dan konten.”
Saat ini tingkat penetrasi telepon selular di Indonesia mencapai hampir 80%. Pasar ini diperebutkan oleh 11 operator selular. Maka, terjadilah perang tarif. Sepanjang 2007-2008, misalnya, pelanggan selular Telkom meningkat 30 juta, namun pendapatan hanya naik 3%. Pasalnya, rata-rata tarif justru mengalami penurunan sampai 80%. Saat ini, tarif telepon selular Indonesia sudah menjadi yang termurah kedua di dunia.
Alhasil, operator selular harus pintar mencari cara untuk bertahan. Mereka menyodorkan beragam aplikasi untuk memikat pelanggan. “Kalau Anda berlangganan iPhone, dia mempunyai banyak sekali aplikasi. Begitu juga dengan Blackberry. Jadi seharusnya kalau berlangganan Telkom, Anda juga akan mendapat banyak aplikasi,” kata Rinaldi.
Nah, yang terbaru, Telkom berpatungan dengan SK Telecom Korea yang menawarkan aplikasi konten digital seperti musik online secara full track, permainan dan klip video. Rinaldi mengakui, sebagai perusahaan telekomunikasi pihaknya kurang ahli mengembangkan konten musik. Padahal, konten musik sangat potensial di Indonesia. Sebab, dari musik ini saja Telkom bisa meraup pendapatan lebih dari Rp700 miliar setahun.
Untuk itulah tahun ini Telkom akan mengalokasikan investasi sekitar US$1,4 miliar melalui anak usahanya yang menjadi operator selular, PT Telkomsel. Angka ini jauh dibandingkan dengan bisnis broadband mereka yang hanya kebagian US$600 juta. Mengapa? Kata Rinaldi, skala perusahaan teknologi informasi (TI) di Indonesia masih tergolong kecil. PT Sigma Cipta Caraka, salah satu perusahaan TI besar di Indonesia yang kini dimiliki Telkom, misalnya, pendapatannya hanya Rp400 miliar setahun. “Belum mencapai triliunan,” tandas Rinaldi.
Rinaldi mengakui, kontribusi sektor informasi, media, dan edutainment saat ini masih kurang dari 10% terhadap pendapatan konsolidasi Telkom. Namun, kontribusi tersebut diharapkan meningkat hingga 20%-25% dalam lima tahun mendatang.
Telkom memiliki beberapa perusahaan non telekomunikasi. Di antaranya plasa.com untuk online transaction, langitmusik.com melalui Telkomsel, juga kepemilikan 70% saham perusahaan TI untuk platform asuransi kesehatan yakni PT Admedika yang saat ini mempunyai 1,2 juta anggota.
Telkom juga berniat meningkatkan saham mereka di Scicom Malaysia yang kini masih 18%. Perseroan pun telah memiliki perusahaan operasional yang melayani lalulintas data atau suara di Singapura. Rencananya, fasilitas sejenis akan dibangun di Hongkong.
Demi mendukung rencana itu, Telkom membentuk unit strategic investment yang akan menetapkan kriteria calon perusahaan untuk diakuisisi. Tidak hanya dalam bisnis telekomunikasi, tapi juga bidang layanan, infomedia dan multimedia. “Fokus di pasar domestik tetap dilakukan, tapi kami tidak menutup kemungkinan untuk ekspansi ke luar negeri,” tambah Rinaldi. Sekarang ini, fokus pengembangan terbesar Telkom memang pada telekomunikasi, dengan porsi sampai 70%.
Tak hanya itu, Telkom baru-baru ini santer didera isu merger produk code division multiple access (CDMA) Flexi dengan produk Esia milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Alasannya, penggabungan diperlukan karena operator telekomunikasi terlampau banyak di pasar domestik.
Akan tetapi, kabarnya rencana penggabungan tersebut telah diminta oleh pemerintah RI yang disertai isu tekanan politik. Namun kata Rinaldi, tidak ada tekanan politik atas rencana tersebut. Soalnya prinsip penggabungan itu hanya merupakan salah satu alternatif. Bahkan, “Sampai detik ini belum ada kesepakatan beli atau jual atau apapun. Baru ada permintaan untuk mengevaluasi, yang bisa mulai dari industri, teknologi, valuasi dan segala macam lainnya,” kata dia.


***

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menilai industri telekomunikasi tengah mengalami perubahan. Bisnis telekomunikasi, media dan informatika gencar berintegrasi, meski awalnya berdiri sendiri. “Sekarang ini telepon selular pun bergabung dengan televisi, dan lainnya. Jadi, batas-batas itu kian kabur,” kata Heru. Batas-batas yang kian terbuka ini, tutur Heru, harus diantisipasi oleh perusahaan-perusahaan telekomunikasi. Bukan hanya perangkat dan infrastruktur, perusahaan telekomunikasi juga harus gencar menawarkan konten dan aplikasi.
Konsep TIME, menurut Heru, sudah sejalan dengan perkembangan industri telekomunikasi. Namun, saran Heru, Telkom sebaiknya memperkuat visi dan arahnya. Mereka perlu menentukan apakah pengembangan akan dilakukan langsung oleh induk usaha atau anak usaha. Selain itu, Telkom juga perlu membuat prioritas dari berbagai aplikasi dan konten. Sebagai pelaku bisnis telekomunikasi tertua di Indonesia, Telkom juga harus menyiapkan sumber daya manusianya agar siap melakukan transformasi bisnis.
Research and Equity Director Sucorinvest Central Gani Adrian Rusmana menilai, perkembangan Telkom masih paling bagus dalam bisnis multimedia. Saat ini, pertumbuhan bisnis selular dan telepon voice tidak lagi sepesat lima tahun silam. Pelanggan selular diperkirakan hanya naik 3% per tahun, sedang pertumbuhan bisnis fixed line justru negatif. Maka, untuk mempercepat pertumbuhan bisnis multimedianya, “Telkom perlu melakukan akuisisi anorganik,” kata Adrian. Dia mengakui, Telkom belum banyak mengalokasikan dana dari untuk pengembangan bisnis multimedia. Soalnya, perusahaan yang diakuisisi saat ini masih berskala kecil. Namun, kontribusi pendapatan dari konten media bertumbuh cukup besar. Untuk itu, Adrian memperkirakan pendapatan Telkom tumbuh sekitar 12% pada akhir 2010 dan laba bersih naik 15%.


Dimuat di Majalah Fortune Indonesia Edisi Perdana, 27 Juli 2010
Cover story : Fortune 100

No comments:

Post a Comment